Badeng Kesenian Khas Garut


Sumber: Google

Konon kata “badeng” berasal dan kata “bahadrang”, yang artinya berunding atau bermusyawarah. Badeng adalah jenis kesenian tradisional khas Garut yang
hingga kini masih sering dipertunjukkan. Kesenian mi berasal dan Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut.

Menurut cerita, kesenian badeng diciptakan oleh seorang ulama penyebar Islam yang bernama Arfaen Nursaen. Tokoh mi juga dikenal dengan nama Lurah Acok. Asalnya dan Banten, kemudian mengernhaiu hingga akhirnya menetap di Desa Sanding.
Lurah Acok awalnya berfikir, bagaimana caranya mcnyeharkuii ajaran-ajaran Islam agar mudah diterima dan dipahami oleh masyanekal Makium, saat itu ajaran Islam masih sangat asing bagi kebanyakan penduduk. Secara tidak disengaja, dalam sebuah perjalanan Lurah Acok menemukan seruas bambu yang kemudian dibawanya pulang. Bambu itu dibuatnya menjadi sebuah alat yang bisa mengeluarkan bunyi.


Sumber : Google

Melihat hash buatannya itu, Lurah Acok kemudian mengumpulkan para santri dan disuruhnya untuk membuat benda serupa. Akhirnya terkumpullah alat-alat bambu yang bisa menghasilkan bermac am-macam bunyi. Dan sanalah kemudian tercipta sebuah irama musik yang bunyibunyiannya berasal dan bambu. Musik itu kemudian digunakan untuk pengiring lagu-lagu sholawat dan Sunda buhun.
Lurah Acok kemudian mempopulerkan kesenian itu ke berbagai tempat sambil syiar Islam. Setiap waktu ia berkeliling ke berbagai tempat, menampilkan kesenian ciptaanya dan mengajak bermusyawarah kepada siapa saja yang ditemuinya. Tujuannya, agar mereka yang diajak bermusyawarah memahami dan memeluk Islam. Lahirlah kata “bahadrang” yang kemudian berubah menjadi “badeng’.


Sumber : Google

Sampai sekarang, kesenian badeng masih dipertunjukkan untuk hiburan. Biasanya dipertunjukkan untuk menyambut tamu agung, peringatan Maulid Nabi, khitanan, hajatan, dan sebagainya. Alat musik yang digunakan dalam kesenian ml terdiri atas roe! (angklung kecil), dogdog lojor, angklung indung, angklung kenclung, dan angklung kecer.

Sayang regenerasi para pemain badeng agak terhambat. Maka jangan heran jika para pemain badeng umumnya sudah berusia lanjut. Perlu dipikirkan, bagaimana agar kesenian mi bisa diwariskan pada generasi muda.

Sumber : Seputar Garut

0 komentar