Prof. K.H. Anwar Musaddad

Bagi orang Garut nama Musaddadiyah tidaklah asing di telinga Bahkan Musadaddiyah tidak hanya dikenal oleh mereka yang tinggal di kota, tapi juga olehmasyarakat Garut di pelosok pedesaan. Musaddadiyah sebenamya nama Iernbaga pendidikan yang menggabungkan pola pesantren dan pendidikan modern. Lokasinya berada di Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut. Nama lengkapnya Yayasan Pendidikan A1-Musaddadiyah Garut, yang membuka lembaga pendidikan mulai dan taman kanak-kanak sarnpai perguruan tinggi. 
Nama lembaga ini diambil dan nama pendirinya, Profesor Kyai Haji Anwar Musaddad, tokoh pendidikan yang cukup dikenal di tingkat nasional. Siapakab Anwar Musaddad?

Anwar Musaddad lahir di Garut tanggal 3 April 1910. Semasa kecil ia bernama Dede Masdiad. Ketika berusia empat tahun Dede sudah yatim. Ta tinggal bersama ibu dan neneknya yang waktu itu mengelola usaha batik Garut dan dodol Kuraetin.

Karena bukan keturunan menak, ia tidak bisa melanjutkan sekolah di lembaga pendidikan formal untuk anak bumi putra. Dede terpaksa harus melanjutkan Sekolah ke HIS Kristen, kemudian melanjutkan ke MULO Kristen di Sukabumi. Sewaktu di Sukabumi, Dede belajar mengaji kepada Ustad Sahroni. Setelah menamatkan MULO, Dede melajutkan studinya ke AMS Kristen di Jakarta.

Baru dua tahun belajar di AMS ia disuruh pulang ke Garut oleh keluarganya. Pasalnya, keluarganya sering mendengar kalau Dede kerap keluar masuk gereja. Keluarga Dede yang muslim merasa hawatir kalau Dede berubah iman.

Oleh keluarganya Dede kemudian dikirim ke pesantren Cipari. Saat itu, pesantren Cipari
dipimpin Kyai Harmaen, salah seorang tokoh Sarekat Islam yang sangat berpengaruh. Sejak belajar di pesantren inilah Dede berganti nama menjadi Anwar Musaddad.

Selama belajar di pesantren, Anwar sangat giat mendalami bahasa Arab. Ia kemudian pindah ke Jakarta. Atas bantuan Kyai Harmaen, di Jakarta ia menumpang di rumah H.O.S. Cokroaminoto — tokoh Sarekat Islam yang juga dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional — sambilmembantu koran Fajar Asia.

Tahun 1930. Anwar Musaddad berangkat ke Mekah mengantarkan ibu dan neneknya menunaikan ibadah haji. Namun setelahnya Anwar tidak langsung pulang. Ia belajar di Madrasah A1-Falah Mekah sampai akhimya menj.di staf pengajar di sana. Di sana pula ia menikahi Maskatul Millah, anak seorang mukimin dan Ciparay, Bandung. Kemudian Anwar memperdalam ilmu agama Islam dan beberapa Syeh dan ulama terkenal di Masjidil Hanim.

Tahun 1941 Anwar kembali ke Indonesia. Ia giat melakukan tablig ke berbagai tempat. Pada saat Jepang berkuasa di Indonesia, Anwar ditunjuk menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Priangan. lajuga menjadi Ketua Masyumi daerah Pnangan. Namun ketika revolusi berlangsung, Musaddad bergabung dengan tentara Hisbullah dan memimpin pasukan bersama-sama dengan K.H. Jusuf Tauzirie. Ia bahkan sempat tertawan oleh Belanda.

Setelah Indonesia benar-benar berdaulat, Anwar Musaddad oleh Menteri Agama diberi tugas untuk mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta. Sesudah PTAIN berdiri, Musaddad rnenjadi dosen matakuliah bah├ása Arab dan. Dakwah di situ. Tahun 1960, Anwar kembali diberi tugas untuk mendirikan dan mengelola Institut Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati di Bandung (Sekarang UIN). Beliau juga yang ditunjuk menjadi rektornya yang pertama padatahun 1968. Seain itu, beliaujuga ditunjuk oleh pemerintah menjadi anggota panitia penerjemahan dan tafsir Qur’an dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Selain itu, beliau juga aktif di NU (Nahdlatul Ulama).

Setelah pensiun, Musaddad mendirikan pasantrdn Al-Musaddadiyah di Garut, yang awalna hanya membuka Fakultas Syariah. Kini lembaga pendidikan tersebutjuga membuka SMA, SMP, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, SMK, TK A1-Qur’an, PGSDIMI dan STTG (Sekolab Tinggi Teknologi Garut).

Anwar Musaddad wafat di Garut tanggal 21 Juli 2000. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pesantren A1-Musaddadiyah.

0 komentar